570 Total Views

Obat Nyamuk Listrik dari Bunga Sukun

Bunga sukun dapat dipakai untuk mengusir nyamuk secara alami dan ramah lingkungan. Tidak berasap dan tidak berbau.

"Kreatif dan inovatif," begitulah komentar Heru Santoso, Ketua Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja 2005, tentang penelitian tiga siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, yang meraih juara pertama bidang ilmu pengetahuan alam. Mereka menampilkan bunga sukun (Artocarpus communis) sebagai refill atau isi ulang obat nyamuk elektrik.

Heru mengatakan, penggunaan bunga sukun ini sangat unik dan mudah diaplikasikan. Namun, penilaian dewan juri lomba yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu juga mencakup sistematika cara berpikir serta ide yang orisinal.

Gagasan menggunakan bunga jantan sukun alias ontel dalam bahasa Jawa sebagai pengusir nyamuk, menurut Eddyman Kharma, siswa kelas III SMA Taruna Nusantara, berasal dari cerita teman-temannya di desa. "Bunga sukun itu bisa untuk obat nyamuk. Saya kepikiran, kok bisa. Jadi saya meneliti," ujarnya.

Pemakaian bunga sukun sebagai pengusir nyamuk memang sudah lama dilakukan. Tidak saja dilakukan masyarakat di desa-desa di Jawa, tapi juga penduduk di Vanuatu, kepulauan di Pasifik Selatan, dekat Australia dan Selandia Baru. Namun, pemakaiannya masih sebatas dibakar, itu pun sudah jarang dipakai sekarang ini dengan banyaknya produk obat nyamuk bakar, semprot, ataupun elektrik yang praktis.

Eddyman dan dua rekannya, Intan Elfarani dan Kanaka Sundhoro, mencari cara pemanfaatan bunga sukun yang lebih praktis dan ekonomis, yaitu sebagai isi ulang obat nyamuk elektrik. Dengan cara ini, asap yang bisa mengakibatkan sesak napas bisa dihindari.

"Hasil penelitian kami, nyamuk dapat dibasmi bukan karena asap jika bunga dibakar," kata Eddyman. "Sebab, alat elektrik ini tidak menghasilkan asap sama sekali."

Dia menduga nyamuk mati karena adanya bahan tertentu yang menguap dari serbuk bunga sukun. Tapi Eddyman, Intan, dan Kanaka belum mengetahui zat apakah yang terkandung dalam bunga itu–yang dapat mengusir nyamuk. "Harus dilanjutkan lagi untuk mengetahui zat yang menyebabkan efek keracunan pada nyamuk," ujarnya. "Termasuk kemungkinan penggunaan ekstrak."

Siswa kelahiran Pekanbaru, 9 Desember 1988, ini menyatakan, kelebihan lain bunga jantan ini juga tidak mengandung bahan kimia berbahaya, seperti transflutrin dan propoxur. Keduanya masih menjadi kontroversi karena diduga bertanggung jawab atas tewasnya ribuan orang dan kerusakan saraf. "Obat dari bunga ini organik, alami. Jadi tidak berbahaya bagi kesehatan manusia," dia menambahkan.

Keunggulan lainnya, serbuk bunga sukun ternyata lebih tahan lama dibandingkan dengan obat nyamuk elektrik merek terkenal. Sementara obat nyamuk pabrik hanya bertahan 18 jam nonstop, bunga sukun efektif mengusir nyamuk sampai 48 jam. "Lebih hemat," ujarnya. "Memang harus ditetesi air. Tapi saya coba tetesi air langsung beberapa mililiter agar praktis ternyata bisa, tidak usah menunggu satu setengah jam."

Dia berharap karya ilmiah mereka ini dapat menjadi terobosan bagi alternatif obat nyamuk yang alami. Apalagi pohon sukun banyak dijumpai, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena sukun merupakan komoditas yang cukup diminati. Buah berdaging putih dan berkarbohidrat tinggi ini juga dikembangkan di Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedikitnya ada 220 ribu pohon ditanam di empat kabupaten itu.

Atas keberhasilan ini, Eddyman memperoleh hadiah uang Rp 1 juta tiap bulan selama setahun. Dia belum tahu akan diapakan uang sebanyak itu. "Tunggu kebijakan sekolah. Nanti dibagi-bagi dengan teman lain," katanya.

Selama penelitian yang berlangsung dua bulan itu, Eddyman, Intan, dan Kanaka tidak menemukan adanya halangan. Biaya penelitian juga ditanggung sendiri karena cuma butuh alat pembasmi listrik dan refill-nya sebagai pembanding. Intan mengatakan, satu-satunya masalah adalah keterbatasan waktu dan dia tak bisa mengikuti proses menguji daya tahan obat nyamuk itu karena berada di asrama putri yang terpisah dari asrama kedua rekannya.

Saat mendengar namanya diumumkan sebagai pemenang, Eddyman sebenarnya sama sekali tak menyangka. "Tapi, waktu mau diumumkan, saya sudah nunduk mau berdiri, ternyata betul," ujarnya.

Pemuda bertubuh tinggi kurus ini menyatakan, kemenangannya di ajang lomba bergengsi ini memang sudah menjadi ambisinya. Pasalnya, empat tahun yang lalu, kakaknya, Subetty Kharma, juga meraih juara satu lomba karya ilmiah remaja di bidang teknik. Siswi SMA Stella Duce I, Yogyakarta, itu menampilkan karya pengaruh perendaman arang dan lidah buaya terhadap kualitas minyak jelantah. "Jadi saya juga juara empat tahun kemudian," kata Eddyman. TJANDRA DEWI

Bunga Jantan Pembasmi Nyamuk

Karya ilmiah ketiga siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, ini memang menarik. Bahannya murah dan mudah ditemukan. Cara pembuatannya juga amat sederhana, cukup menumbuk bunga jantan kering, simpan dalam kertas tisu, tetesi air, dan dipasang pada alat pembasmi nyamuk elektrik. Dijamin nyamuk bakal mati, paling tidak ngacir dari kamar selama dua hari, begitu hasil penelitian mereka. Tidak ada bau menyengat seperti obat nyamuk dari bahan kimia. "Baunya alami, seperti bunga sukun saja, tidak mengganggu," kata Eddyman. "Karena bahannya cuma bunga sukun dan air."

   1. Bunga jantan sukun dikeringkan.
   2. Tumbuk bunga sukun sampai halus.
   3. Serbuk bunga sukun diletakkan di atas kertas tisu. Kertas dilipat membungkus serbuk sampai berbentuk empat persegi panjang sebesar isi ulang obat nyamuk elektrik.
   4. Basahi lipatan kertas tisu berisi serbuk dengan beberapa milimeter air.
   5. Pasang kertas tisu itu pada alat pembasmi nyamuk elektrik. Nyalakan.

Comments are closed.