63 Total Views

Titian Hidup Sang Nelayan

      Titian Hidup Sang Nelayan

Petang hari menuju senja, di pesisir pantai terlihat alangkah indahnya matahari tenggelam di angkasa bebas. Ditemani kicau burung yang berlalu-lalang, deruan ombak yang silih berganti dan suara orang yang hendak pulang ke rumah mereka. Tiba-tiba terlihat nelayan yang sedang mengayuh sampannya demi mencari sesuap nasi. Mereka mengail ikan seolah-olah tiada habisnya .

    Sementara itu di rumah-rumah penduduk terdengar suara televisi dan hiburan malam yang menemani warga yang sedang asyik berkumpul dengan sanak saudaranya. Tetapi alangkah sedihnya apabila melihat nasib para nelayan. Seolah-olah mereka tak pernah menikmati hiburan dan suara jangkrik di malam hari. Mereka hanya ditemani oleh suara ombak dan ikan yang mereka dapati. Itupun kalau mereka beruntung.
    Mereka bekerja tak kenal lelah. Pergi sore pulang pagi. Begitulah nasib mereka. Nelayan-nelayn itu hidup dengan seadanya dari hari ke hari. Jangankan lauk untuk makan sehari-hari terkadang nasipun tiada. Ditambah lagi hutang mereka yang belum terlunasi.
    Apa daya mau dikata. Bagi nelayan kecil seperti merek, hidup tidak di perhatikan sudah biasa. Seminggu mencari ikan dan dua hari pulang keruma, begitu seterusnya. Tergantung dari kondisi badan dan cuaca yang sedang mereka hadapi.
    Kehidupan mereka tak berubah-ubah, dari dulu ya begitu-begitu saja. Tak ada pilihan lain buat mereka. Untuk berwiraswasta saja sulit. Selain butuh modal, juga tidak dibekali keterampilan yang cukup.
    Di tengah-tengah kehidupan malam kota yang sibuk berlalu-lalang, mereka seperti terasingkan. Padahal mereka juga manusia. Pekerjaanlah yang menuntut mereka bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
    Itu sungguh ironis bukan ? terjadi di negara kelautan seperti negara kita, yang memiliki sumber daya alam khususnya hasil laut yang melimpah ruah ini belum sanggup menyejahterakan para nelayan. Padahal apabila hasil kelautan dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menciptakan devisa yang cukup besar bagi negara kita. Sehingga nelayan tidak perlu lagi hidup dalam kemelaratan.
    Betapa tidak tergugah hati ini, bila melihat kehidupan mereka. Belum lagi dengan pendidikan anak-anak mereka, kesehatan di lingkungan yang buruk dan status sosial yang mereka sandang. Seakan-akan begitu terlecehkan. Masih banyak lagi dampak buruk yang harus mereka hadapi dengan pekerjaan yang mereka tanggung.
    Bagaimana kehidupan mereka bisa maju, jika mereka tidak pernah tahu harga ikan yang sesungguhnya. Mereka hanya menjual ikan itu kepada tengkulak yang membayar mereka sesuka hati. Terkadang, hari ini harganya melambung tinggi, bisa saja esok hari harganya turun drastis.
    Mereka hanya bisa pasrah pada nasib mereka. Apalagi terkadang mereka menjadi korban penggusuran. Dimanakah mereka akan hidup ? apakah kita akan berpikir seperti mereka.
    Belum lagi  pendapatan yang mereka dapat tidak sebanding dengan kerja keras yang teleh dilakukan. Mereka berangkat untuk pergi melaut pukul 17:00. Mereka baru pulang dini hari, terkadang keesokan harinya. Mereka berangkat bersama-sama dengan temannya yang berkisar 8 -10 orang untuk sekali melaut.
    Bekal yang mereka bawapun tidak banyak, seadanya saja. Belum lagi biaya bahan bakar untuk perahu yang mereka naiki. Betapa banyak modal yang harus mereka keluarkan untuk pekerjaan mereka.
    Sekali melaut mereka mendapatkan banyak uang, tetapi lebih sering tak sesuai dengan harapan mereka. Hasilnyapun harus dibagi –bagi. Bisa dibayangkan dengan penghasilan seperti itu bagaimana mereka dapat menjalani hidup. Jangankan hiburan, untuk hidup sehari-hari saja belum tentu cukup.
    Alangkah bahagianya orang-orang yang dapat berkumpul dengan keluarga mereka, setelah seharian bekerja. Menikmati hiburan-hiburan yang ada di televisi  sembari bersenda gurau. Melepas kerinduan setelah bergelut dengan pekerjaannya yang menguras banyak pikiran dan tenaga.
    Sedangkan kehidupan keluarga nelayan sangat menyedihkan, selalu meninggalkan anak dan istri mereka dirumah tanpa hiburan apapun. Jangankan televisi hitam putih , radiopun tidak mereka punya.     
    Hiburan mereka dirumah hanyalah mengolah ikan yang kemudian dijemur dan setelah kering mereka menjualnya untuk menambah penghasilan mereka. Banyak anak-anak nelayan yang tidak bersekolah, diusia seperti mereka tak sepantasnya mereka bekerja keras ikut memikul beban kehidupan, seharusnya mereka mendapatka pendidikan yang layak.
    Dilingkungan mereka yang kotor, banyak penyakit yang mengancam mereka, apalagi fasilitas kesehatan yang belum dapat menjangkau di daerah perkampungan nelayan.
    Saat ini mungkin orang-orang belum bisa menghargai hasil jerih payah mereka, mungkin suatu saat nanti kita semua akan menyadari betapa besar jasa seorang nelayan.

Di susun oleh :
Muhammad Abrar
XI IA 2 – 044167

Tinggalkan Balasan