Imam Buchori (TN 11), Anak Tukang Becak Peraih Adhi Makayasa

SIAPA sangka, satu dari peraih Adimakayasa yang berdiri gagah penuh wibawa di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada upacara Prasetya Perwira (Praspa) 2006 pagi kemarin, adalah anak seorang tukang becak.

Dia adalah Imam Buchori (TN 11). Meski dibesarkan dari keluarga tidak mampu, arek asal Malang, Jawa Timur, itu berhasil menamatkan pendidikan militer di AKMIL dengan nilai tertinggi.

Pagi itu, didampingi kedua orangtuanya, yakni Abdul Salam, 40 dan Siti Khotijah, 40, Imam Buchori melangkah dengan pasti meninggalkan mess Aklan AAU. Mess yang sudah hampir sepekan ditempatinya menyambut pengambilan sumpah dan pelantikan atas dirinya sebagai perwira lulusan Akademi TNI oleh Presiden.

Mess yang disediakan untuk para peraih Adimakayasa memang dibedakan. Lokasinya tersendiri, tidak sama dengan lulusan lainnya. Agaknya, ini untuk mempermudah komunikasi mereka dengan panitia pelaksana Praspa.

Imam mengantar kedua orangtuanya duduk di deretan kursi yang disediakan khusus untuk para orangtua peraih Adimakayasa. Letaknya tak jauh dari tempat duduk presiden dan ibu presiden. Tentu ini membuat kedua orang asli Madura itu berbangga hati.

Ditemui wartawan koran ini sebelum pelantikan, Abdul Salam mengatakan bahwa ia bersama keluarga besarnya tiba di Yogya pada Kamis pagi. Mereka menggunakan dua mobil yang dipinjam dari tetangga. Undangan pelantikan anaknya ini, kata Abdul Salam, seperti mimpi.

Lelaki yang sehari-hari berprofesi tukang becak ini masih tidak percaya. Ia juga masih tak percaya dengan jas mewah yang sedang dikenakannya itu. Ya, jas mewah dan gaun indah yang dikenakan orangtua Imam diperoleh gratis. Tapi, tidak jelas dari mana pakaian itu berasal.

“Kalau tidak dari Akmil ya dari panpelnya sini, pokoknya tinggal pakai. Lagian uang dari mana bisa beli baju semahal itu,” tukas paman Imam yang ikut menghadiri upacara.

Abdul Salam mengaku sempat minder melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya menggunakan pakaian dan mobil mewah. Tidak seperti dirinya, orang tidak mampu dan hanya tamatan SD. Inilah yang membuat Abdul Salam terus terharu, ingin menangis.

“Saya tidak pernah menyangka apalagi membayangkan, Imam seperti ini. Apalagi saya bisa ketemu presiden, saya benar-benar tidak menyangka,” ungkapnya lagi dengan nada lirih.

Sukses Imam, memupus rasa minder Abdul Salam dan Siti Khotijah.

“Tapi begitu melihat anak saya kelihatanya tegar, mantap, saya jadi tidak minder lagi,” katanya diselingi senyuman.

Imam memang pemalu tapi tidak pernah malu mempunyai orang tua yang tidak mampu. Menurut Abdul Salam, sukses anaknya itu berkat doa, kegigihan, serta perjuangan.

Imam memang dikenal pendiam. Sejak SMP ia termasuk murid yang pintar. Makanya, saat ia ingin mendaftar SMA Taruna Nusantara (Tarnus) semua orang mendukung dan mendoakannya.

“Sejak SMP sampai sekarang, saya belum pernah mengeluarkan uang seribu perakpun untuk Imam,” ujarnya.

Sebagai rasa syukur yang dalam, usai pelantikan nanti, orangtua Imam akan menggelar pengajian dan selamatan kecil-kecilan. Terakhir yang ingin diharapkan dari Imam oleh orangtuanya adalah menopang ekonomi keluarga.

“Jika karier Imam bagus dan jadi pimpinan, semoga dia pimpinan yang bijaksana dan adil dan berbakti orangtua,” imbuh Siti Khotijah, ibu Imam.

Kedua orang itu patut dicontoh. Mereka sukses mendidik anak-anaknya. Kakak perempuan Imam bernama Siti Kholifah lulusan Akademi Perawat dan sekarang telah bekerja di sebuah apotek besar di Malang. Adik bungsu Imron Muhamad Imron kelas 5 SD. Imron yang bercita-cita menjadi dokter ini juga selalu juara kelas.

Sementara Imam yang lahir di Malang, 18 Maret 1985 lalu mengaku tidak percaya mampu menamatkan pendidikan militer di Akademi Militer (AKMIL) Magelang dengan nilai tertinggi. Maklumlah, kata Imam, kemampuan jasmani, intelektual dan mental di Akmil rata-rata sama.

Kata Imam, SMA Taruna Nusantara (Tarnus) lah pembuka awal sukses Imam ke jenjang pendidikan Akmil. Itu diawali dari ketertarikan Imam terhadap promosi SMA Taruna di SMP N 5 Malang, sekolahnya. SMPN 5 termasuk SMP terfavorit di Malang.

“Saya tertarik informasi pendidikan SMA Tarnus dari salah satu alumni SMP 5, yang promosi di sekolah saya, apalagi sekolah itu gratis, lulus SMP saya mencoba daftar. Ternyata lolos,” ujarnya mengenang. Selama menimba ilmu di Tarnus, Imam mengaku prestasinya biasa saja, rata-rata.

Selama di Akmil prestasi mulai terlihat. Dari tingkat satu naik ke tingkat dua, Imam mendapatkan penghargaan Trisakti Wiratama perak, dari tingkat dua ke tingkat tiga Imam mendapatkan Trisakti Wirata Perunggu. Mengakhiri pendidikan ini, selain menjadi yang terbaik, Imam juga mendapatkan penghargaan Trisakti Wiratama emas, yakni penghargaan atas prestasi pada kepribadian, akademik, dan jasmani.

Tidak ada resep khusus untuk meraih keberhasilan itu. Semuanya hanya diperoleh dengan ketekunan, kegigihan, dan perjuangan. Lahir dan dibesarkan dari keluarga pas-pasan bukan hambatan bagi Imam untuk unggul dari teman-teman taruna yang berasal dari keluarga kaya.

Ia tidak pernah malu dan minder untuk bergaul dengan mereka.

“Saya sudah terbiasa bergaul dengan siapa saja. Saya berusaha masuk dalam semua kalangan, dalam berteman saya seperti bunglon,” tambahnya.

Kemiskinan tidak dijadikan beban untuk tidak bisa maju, justru menjadi motivasi untuk berbuat yang terbaik.

Keinginan mulia Imam ke depan, ingin mengangkat derajat orang tua dan keluarga.

“Itu keinginan saya, orang tua yang telah membesar dan mendidik saya sampai sekarang ini. Saya berterima kasih sama kedua orangtua saya,” Imam haru.

Bagikan →

Tinggalkan Balasan