Lucky Avianto (TN 1), Terbitkan 19 Buku untuk Dokumentasikan Kiprah

Letkol Inf Lucky Avianto, Komandan Yonif 500/Raider, Dokumentasikan Kiprah

Berawal dari Curhat di Diary, Ke Luar Negeri berkat Prestasi

Mungkin prajurit penghobi menulis terhitung jarang. Berawal dari suka menulis buku harian kala remaja, minta itu keterusan saat Lucky Avianto menjadi tentara. Sedikitnya sudah 19 buku dia terbitkan.

Oleh Suryo Eko Prasetyo

—-

Barisan buku tertata rapi. Tidak hanya di dalam lemari kaca yang bening dan rak dekat jendela. Buku tersebut juga tersusun di atas meja kerja berdimensi 1,5 meter x 1 meter. Di antara tumpukan dokumen dan surat yang harus ditandatangani di ruang kerja sekitar 5 meter x 15 meter itu, tampak sejumlah buku dengan nama penulis yang sama. Yakni, Letnan Kolonel Infanteri Lucky Avianto.

Penulis merupakan Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 500/Raider, pimpinan pasukan elite di jajaran Komando Daerah Militer (Kodam) V/Brawijaya. Termasuk elite karena merupakan pasukan pemukul seperti Kopassus (Komando Pasukan Khusus)-nya TNI AD.

“Ya, beginilah akibat suka menulis diary sejak masuk SMA Taruna Nusantara di Magelang,” ucap Lucky dengan ramah.

Segala aktivitas hampir selalu dia dokumentasikan dalam bentuk catatan. Kebiasaan alumnus SMP Negeri 45 Jakarta tersebut terbawa hingga di Akademi Militer Magelang. Kemampuan bahasa asingnya kian terasah. Itu berkat kesukaannya “curhat” di buku diary dalam Bahasa Inggris.

Ketika masih taruna, Lucky terpilih dalam cadet exchange program ke Australia. Pola kehidupan disiplin yang ditempa lembaga pembentuk perwira di Lembah Tidar itu membuat Lucky semakin matang. Prajurit kelahiran Jakarta, 2 Oktober 1974, tersebut menyabet predikat lulusan terbaik atau Adhi Makayasa 1996.

Itu sebuah capaian bergengsi bagi alumnus Akademi TNI/Polri.

“Selain karena Allah, hasil tersebut berkat didikan orang tua saya sejak kecil,” tutur Lucky merendah.

Sebagai perwira remaja yang baru lulus dengan pangkat letnan dua dan ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infanteri untuk Kopassus, waktunya banyak tersita. Dia harus menjalani sekolah kecabangan. Berbagai pendidikan militer dan kursus militer dia lakoni. Di antaranya sekolah combat intel, kursus komando, dan kursus intensif bahasa Inggris.

Berbagai posisi sempat dijabatnya di jajaran pasukan elite TNI-AD. Di antaranya, komandan peleton dan komandan kompi di Batalyon-23 Grup-2 Kopassus serta perwira staf operasi di satuan yang sama. Penugasan ke daerah konflik ia peroleh ketika masih pangkat letnan satu.

Di antaranya, di Ambon dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada kurun waktu 2000-2003 sebagai perwira intelijen operasi. Pada tahun berikutnya, saat naik jabatan menjadi kapten, dia dipromosikan menjadi kepala staf intel komando operasi di NAD.

“Hampir seluruh waktu saya tercurah untuk tugas negara,” kenangnya.

Karir Lucky semakin berkibar sepulang dari daerah konflik. Berbagai posisi di pasukan elite Kopassus dia duduki. Misalnya, komandan kompi dan komandan tim di Grup 2 dan Grup 3. Karir perwira pertamanya semakin moncer ketika dipercaya menjabat kepala Seksi Operasi Grup 1 Kopassus pada 2007.

Penugasan ke luar negeri kembali diberikan kepada Lucky. Contohnya, kursus basic man power officer dan latihan bersama Chandrapura di Singapura, pertemuan teknis lomba menembak dan pertandiangn ASEAN Armies Rifle Meet di Brunei Darussalam, serta ditunjuk sebagai military observers (Milobs) atau peninjau patroli lapangan di Republic Democratic Congo (RDC).

“Saya aktif kembali mendokumentasikan riwayat dinas ketika bertugas di RDC pada 2010,” ungkapnya.

Penugasan yang dia peroleh merupakan bentuk apresiasi dari petinggi TNI-AD atas prestasinya. Ketika menjabat wakil komandan Batalyon-11 Grup-1 Kopassus, pasukannya memenangi lomba peleton tangkas.

Begitu pula ketika dia menjabat perwira pembantu muda operasional Kopassus hingga dipromosikan menjadi perwira menengah Kopassus. Bahkan, ketika menjalani sekolah staf komandan TNI-AD pada 2011, dia nangkring sebagai siswa terbaik. Prestasi demi prestasi itu yang membuat Lucky kerap mendapat penugasan ke luar negeri.

Tidak ingin pengalaman selama bertugas tanpa kenangan, Lucky memberanikan diri menyusun buku. Buku pertamanya berjudul Milobs di Congo. Lembar demi lembar buku itu merupakan kisah perjalanannya ketika negara di Afrika Tengah tersebut masih dilanda konflik.

“Ide awal menulis buku karena pengalaman selama bertugas selalu menarik,” terangnya.

Pengalaman selama bertemu dengan prajurit dari seluruh satuan di jajaran TNI maupun United Force menjadi beberapa bahan sudut pandang yang dia tulis.

Dengan buku tersebut, dia berharap yang dilakukan selama berada di wilayah penugasan dapat diketahui.

“Minimal oleh anggota satgas dan keluarga maupun masyarakat Indonesia lainnya,” ujar Lucky.

Sukses me-launching buku pertama, Lucky mulai “kecanduan.” Pulang dari Kongo, dia diminta menjadi kepala staf pribadi (Kaspri) Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya dan kembali membikin buku.

Masih pada tahun yang sama, Lucky kembali mendapat kepercayaan ke Australia. Kiprah internasional bersama UN mendapat apresiasi berupa The Colin East Award. Di Negeri Kanguru tersebut, suami Dian Pujiwati itu mendapat kesempatan latihan bersama dengan Angkatan Bersenjata Australia dalam Dawn Kookaburra.

“Selama di Australia saya bukukan dalam Tour to Aussie,” kenang bapak tiga putri itu.

Penghargaan Marechal Hermes turut dia peroleh dari Pemerintah Brasil. Selama lebih dari 17 tahun berkiprah sebagai prajurit, sedikitnya sembilan negara telah dia kunjungi.

Naluri menulis Lucky tetap terjaga ketika menjabat posisi strategis di tanah air. Untuk pertama kali pada 2012, dia memegang Yonif 400/Raider. Selama memegang pasukan di bawah jajaran Kodam IV/Diponegoro itu, sedikitnya tiga buku dia hasilkan. Yakni, Visi dan Misi Danyonif 400/Raider, Reuni di Banteng Raider, dan Kiprah Danyonif 400/Raider.

Sejak bergabung di jajaran Kodam V/Brawijaya mulai Oktober 2012 dan ditugaskan dalam satgas ke Lebanon hingga akhir 2013, sudah tiga buku dia terbitkan. Yakni, Visi dan Misi Danyonif 500/Raider, Paruh Waktu Perjalanan di Lebanon, dan Setahun Perjalanan Misi di Lebanon.

Apa tidak dikomersilkan?

“Sementara masih cetak terbatas 950 eksemplar, mayoritas untuk anggota,” imbuhnya. (c6/end)

Sumber: Harian Jawa Pos, 24 Januari 2014

Bagikan →

Tinggalkan Balasan