Letkol Laut (P) Adam Tjahya Saputra, S.T., M.Tr. (TN 5) Jabat Komandan KRI Tombak – 629

Komandan Satuan Kapal Cepat (Dansatkat) Koarmada II Kolonel Laut (P) Wawan Trisatya Atmaja, S.E., memimpin jalannya upacara serah terima jabatan Komandan KRI Tombak-629 dan Komandan KRI Singa-651, bertempat di Haluan KRI Tombak yang sandar di Dermaga PT. PAL, Surabaya. Rabu (05/09/2018).

Jabatan Komandan KRI Tombak – 629 yang semula dijabat oleh Alumni AAL Angkatan 45 tahun 1999, Letkol Laut (P) Osben Alibos Naibaho, M.Tr (Hanla) saat ini diserahterimakan kepada Letkol Laut (P) Adam Tjahya S.,S.T., M.Tr. (Hanla)., yang merupakan alumni AAL Angkatan 46 tahun 2000.

Letkol Laut (P) Adam Tjahya S. sebelumnya menjabat sebagai Kadep Ops KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR)-332, sedangkan Letkol Laut (P) Osben Alibos Naibaho, M.Tr (Hanla) nantinya akan menjabat sebagai Paban Ops Sops Koarmada II.

Kisah Letkol Arm Gregorius Eka Setiawan (TN 5) mengamankan wilayah terluar Indonesia

Jadi Penjaga Pulau Terluar Indonesia, Ini Senjata Jitu Kodim 1312/Talaud


Letkol Arm Gregorius Eka Setiawan

Manado — Kabupaten Kepulauan Talaud tak hanya spesial karena terdiri dari banyak pulau dan adat budaya yang kental, tapi juga karena letak geografisnya yang berada di garda terdepan Indonesia, pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Bahkan, jarak salah satu pulau, yaitu Miangas dengan pulau Davao yang ada di Filipina lebih dekat daripada Miangas dan ibukota kabupaten Talaud apabila ditempuh dengan speedboat.

Dengan banyaknya pulau tersebut, tak heran transportasi andalan masyarakat adalah transportasi laut yang sangat dipengaruhi oleh cuaca.

Apabila cuaca sedang tidak bersahabat, ombak yang ganas dapat membuat kapal-kapal jadi tidak bisa berlayar dan itu berarti pasokan logistik dan listrik menjadi sangat terbatas.

Banyaknya faktor yang dapat menjadi ancaman pun menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ada di pulau terluar.

Hal tersebut dijelaskan Dandim 1312/Talaud Letkol Arm Gregorius Eka Setiawan kepada BeritaManado.com beberapa waktu lalu di Makorem 131/Santiago.

“Tidak mudah ada di pulau terluar dengan segala keterbatasan yang ada. Berhadapan langsung dengan laut dan negara tetangga yang situasi keamanannya sempat memanas tentu membuat pengamanan pun wajib ditingkatkan, melebihi daerah lain. Apalagi disini ada pulau yang tidak berpenghuni,” ujar Gregorius.

Berdasarkan hal tersebut, Kodim 1312/Talaud yang berada dibawah komando Korem 131/Santiago ini pun melakukan berbagai strategi pengamanan untuk memastikan garda terdepan Indonesia dijaga dengan baik.

“Patroli rutin kita lakukan, ada juga patroli gabungan. Penjagaan rutin sudah pasti. Tapi yang selalu kami lakukan yaitu memperkuat kemanunggalan TNI-Rakyat,” kata Gregorius.

Lanjutnya, hal tersebut merupakan senjata ampuh Kodim 1312/Talaud dalam menjaga pertahanan dan kedaulatan bangsa.

“TNI tak bisa tanpa rakyat, rakyat pun tak bisa tanpa TNI. Kita sama-sama saling membutuhkan untuk Indonesia yang kuat. Saat kita bersama dan solid, kemanunggalan tercipta dengan baik, maka kita akan kuat menghadapi ancaman-ancaman yang datang,” ucap Gregorius Eka. (srisurya)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama SMA TN, Iriawan: Ini Bentuk Kepedulian Jabar


SMA Taruna Nusantara/DOK. PEMPROV JABAR
Peletakan batu pertama pembangunan Graha Putra 2 atau asrama SMA Taruna Nusantara (TN) Magelang, Jawa Tengah.*MAGELANG, (PR).-

Penjabat Gubernur Jawa Barat H. Mochamad Iriawan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Graha Putra 2 atau asrama SMA Taruna Nusantara (TN) Magelang, Jawa Tengah. Pembangunan ini merupakan bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank BJB.

Dalam sambutannya, Iriawan mengatakan bahwa bantuan pembangunan asrama ini adalah salah satu bentuk kepedulian Jawa Barat terhadap SMA Taruna Nusantara.

“Ini (bantuan pembangunan asrama) memang salah satu bentuk kepedulian kami, Jawa Barat kepada SMA TN yang kita cintai ini,” kata Iriawan saat acara peletakan batu pertama pembangunan Graha Putra 2 SMA Taruna Nusantara di Jl. Raya Purworejo Km 5, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu, 1 September 2018.

Kolonel Inf. Dwi Sasongko (TN 3) pimpin Satuan Tugas Rapidly Deployable Battalion (RDB) Kontingen Garuda XXXIX-A/Monusco Kongo

Alutsista Kontingen Garuda Jadi Etalase Bangsa


JAKARTA, KOMPAS — Kontingen Garuda yang bertugas sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB adalah duta bangsa. Peranannya bukan hanya menjaga perdamaian, melainkan juga berinteraksi dan berkontribusi di tengah masyarakat dunia hingga memberi kepercayaan sampai saat ini kepada Indonesia.

Saat melepas Kontingen Garuda untuk menjaga perdamaian di Republik Demokratik Kongo dan Lebanon di Lapangan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/8/2018), Presiden Joko Widodo menyatakan, hal yang membanggakan adalah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dibawa kedua satuan tugas (satgas) merupakan produksi anak bangsa. ”Ini (jadi) etalase produk strategis Indonesia,” kata Presiden.

Acara dihadiri sejumlah menteri, seperti Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Penjabat Gubernur Jawa Barat M Iriawan.

Alutsista yang dibawa antara lain Anoa, kendaraan militer lapis baja berukuran medium yang bisa digunakan untuk mengangkut personel, juga kendaraan taktis yang bisa digunakan sebagai pengintai di medan berat yang disebut Komodo. Selain itu, senjata organik yang dibawa setiap prajurit adalah senapan serbu SS-2 yang juga produksi PT Pindad.

”Hari ini Indonesia bangga, bangga turut menjaga perdamaian dan ketertiban dunia. Itu adalah amanat konstitusi kita. Sebagai wujud kontribusi Indonesia untuk dunia, sekaligus kita ingin mengharumkan nama baik bangsa dan negara,” kata Presiden Jokowi.

Indonesia ikut menjadi bagian penjaga perdamaian bersama pasukan PBB sejak 1957. Saat itu, Kontingen Garuda atau disebut Konga bertugas menjaga perbatasan Israel dan Mesir bersama pasukan PBB. Sejak 1957, lebih dari 38.000 personel pasukan perdamaian dikirim Indonesia. Indonesia tercatat sebagai satu di antara 10 besar negara pengirim pasukan PBB.

Pada 2018 ini direncanakan 4.000 personel akan diberangkatkan sebagai pasukan perdamaian. Satgas yang diberangkatkan adalah RDB Kontingen Garuda XXXIX-A Kongo dan Satgas MTF Kontingen Garuda XXVIII-K Lebanon.

Satgas RDB (Rapidly Deployable Battalion) terdiri atas 850 personel yang dipimpin Kolonel (Inf ) Dwi Sasongko. Pasukan ini semacam pasukan gerak cepat yang tak hanya menjaga mobilitas pekerja PBB dan mengawasi perlucutan senjata, tetapi juga membantu mengawasi pemilu Kongo, November depan. Adapun Satgas MTF (Maritime Task Force) terdiri atas 120 personel yang akan bertugas di perairan Lebanon. Pasukan dikomandani Letnan Kolonel Laut (P) Cecep Hidayat.

Panglima TNI mengatakan, prajurit umumnya senang ditugaskan dalam misi PBB. Sebab, tak semua prajurit TNI bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20180901/281539406829629